5 Tahapan Terjadinya Depresi

Teori DAB-DP oleh ELIZABETH Kubler-Ross menyebutkan 5 anak tangga terjadinya Depresi.

[1] D: Denial. Penyangkalan. Depresi diawali fase penyangkalan (denial). Pertanyaan seperti “Mengapa begini, mengapa bukan begitu? Seharusnya begini, seharusnya tidak begitu. Dst.” adalah contoh bentuk-bentuk penyangkalan. Jika fase ini tak segera disadari, penyandang masalah akan sampai pada tangga berikutnya.

[2] A: Anger. Amarah. Penyangkalan berlarut-larut bisa menyeret penyandang masalah pada kondisi tak terbendung, yakni kemarahan. Jika terus terhanyut dalam penyangkalan dan kemarahan, ia akan protes terhadap “si masalah”, bahkan terhadap dirinya sendiri. Kondisi ini sering menyudutkan penyandang masalah pada kondisi alone ‘n lonely (sendiri dan kesepian), ia merasa yang paling menderita di dunia.

[3] B: Bargaining. Penawaran. Ini adalah anak tangga berikutnya jika penyandang masalah tak mampu memahami dan mengatasi masalahnya. Jika seseorang yang sedang bermasalah merasa “mengapa ini terjadi pada saya? (mengapa bukan pada orang lain)”, pertanda ia sudah berada dalam fase pra-depresi.

[4] D: Depresi. Ketika seorang penyandang masalah menggendong 3 beban di atas sekaligus (penyangkalan + kemarahan + penawaran), sangat mungkin ia segera menembus batas tipis kondisi depresi, stres berat yang tak tertahankan. Orang lain bisa membantunya membuka sumbat masalah, misalnya dengan curhat. Tapi inti penyelesaian terutama berada pada penyandang depresi – kemampuan mengatasi depresi tidak ditentukan oleh besar-kecil atau berat-ringannya masalah, karena hal ini bersifat subjektif. Berat bagi seseorang, belum tentu berat bagi yang lain. Dan ternyata kuncinya adalah persepsi diri. Seseorang yang memiliki persepsi diri baik (positif), lebih mudah lepas dari jerat depresi. Sebaliknya, seseorang dengan persepsi diri buruk (negatif), justru lebih suka bergulung-gulung dalam masalahnya.

[5] A: Acceptance. Penerimaan. Inilah fase pelepasan alias fase penggembosan masalah. Saat seseorang menyadari masalahnya, dan kemudian berinisiatif mengambil solusi, biasanya ia sudah sampai pada fase penerimaan. Pemahaman sesorang terhadap masalah menjadi pembuka sumbat masalahnya. Pemahaman menumbuhkan keikhlasan – berbeda dari kepasrahan, yang terkesan fatalistik (menyerah dan tidak berbuat apa-apa lagi). Keikhlasan memberi ruang pada penyandang masalah memahami masalahnya dan berani mengambil langkah.

Sesungguhnya fase Acceptance bukan anak tangga ke-5 yang harus dicapai setelah seorang penyandang masalah melalui dulu 4 anak tangga sebelumnya. Sebab, siapa pun penyandang masalah bisa segera sampai pada fase ini, sehingga ia tidak perlu sampai pada fase depresi. Dengan demikian, bisa saja begitu muncul masalah, seseorang segera sadar diri untuk berada pada posisi Acceptance, sehingga tidak perlu lagi ada Denial atau ada Anger atau ada Bargaining.

Dr. Angga Fitranto

image : wakingtimesdotcom
image : wakingtimesdotcom

Topik Terkait