Dokter Ortopedi atau Sangkal Putung?

Siang ini saya akan melakukan amputasi pada kaki kiri anak laki2 berusia 15 tahun, yang 1 bulan lalu jatuh dan patah tulang keringnya. Ketika jatuh, tidak ada luka sama sekali di kulitnya, dan melihat foto rontgennya, seharusnya pasien cukup digips selama 1-1.5 bulan tanpa harus operasi.

Setelah jatuh, pasien dibawa ke sangkal putung, dan orang tuanya harus membayar 200rb setiap kali datang (sekitar 5-6 kali kunjungan). Cukup ironis, karena pasien memiliki kartu Jamkesmas yang menjamin 100% pengobatan gratis. Iseng, saya bertanya ke orang tuanya, apakah mereka tidak ingin meminta pertanggungjawaban sangkal putung? Mereka hanya terdiam dan tersenyum.

Saya sudah meminta ijin orang tuanya untuk upload foto dibawah ini, dan sudah saya edit karena penampakan sesungguhnya cukup menakutkan bagi sebagian orang. Semua kulitnya sudah hilang, tulang jari2 kaki dan sebagian tulang kering terlihat dari luar beserta belatung dan nanah.

Saya tidak akan “menyalahkan” pihak keluarga atau sangkal putung. Saya ingin melihat kasus ini dari sudut pandang lain.

Beberapa waktu lalu, saya juga menulis status serupa tentang anak kecil yang juga berobat ke sangkal putung dan sangat menarik membaca komentar2 orang awam di status tersebut. Banyak orang yang berpendapat, mereka lebih memilih untuk berobat ke sangkal putung/alternatif (meskipun mereka memiliki latar belakang pendidikan dan status ekonomi yang cukup) karena berasumsi bahwa dokter orthopedi selalu melakukan operasi untuk pasien patah tulang. Beberapa orang lain menceritakan bahwa mereka mendengar kalau dioperasi maka tulang bisa infeksi, sehingga harus dioperasi berkali2 dan sebagainya.

Pernah sakit batuk pilek kan? penyakit yang “sederhana”. Tapi coba kita amati, meski kita seringkali menderita batuk pilek, namun waktu yang dibutuhkan untuk sembuh selalu tidak pernah persis sama. Kadang 2 hari sudah sembuh, kadang 4 hari, bahkan bisa juga seminggu belum sembuh. Karena memang tubuh manusia itu “unik”. Nah kalau respon tubuh manusia terhadap penyakit “sesederhana” batuk pilek saja bisa berbeda, apalagi penyakit lain yang lebih berat? Karena itu jangan pernah membandingkan kondisi badan kita dengan orang lain.

Sebelum memutuskan untuk melakukan tindakan operasi, saya selalu berbicara panjang lebar dengan pasien dan keluarganya. Mulai dari persiapan operasi, resiko dan komplikasi operasi, perkiraan lama kesembuhan dll. Saya selalu mengamati perubahan ekspresi wajah pasien dan keluarganya selama proses menjelaskan ini, dan saya bisa tahu jika mereka meragukan/kurang mempercayai saya. Ketika saya menangkap tanda2 ini, saya selalu mengatakan: Bapak/ibu boleh mencari pendapat dari dokter lain. Saya tidak keberatan.

Hubungan dokter dan pasien itu sama, setara. Pasien memiliki hak penuh untuk menentukan apapun pengobatan yang akan dipilihnya. Karena itu, kalau anda merasa pernah dikecewakan atau trauma dengan satu atau beberapa dokter, entah karena ada kata2 yang menyinggung atau penjelasan yang kurang pas, anda bisa selalu mencari pendapat kedua, ketiga, dst ke dokter2 yang lain. Dokter = manusia biasa, ada kalanya suasana hati dan pikiran kami kurang baik dan kami tidak bisa menjelaskan dengan kata2 yang tepat.

Bagaimana kalau mencari pendapat ke pengobatan alternatif? tidak masalah, karena sekali lagi, itu adalah hak asasi anda sebagai pasien.

Tulisan saya ini tidak untuk “memaksa” dan “membujuk” anda yang mempercayai dan meyakini sangkal putung untuk berobat ke dokter. Adalah hak asasi setiap orang untuk menentukan sendiri pilihan pengobatan apa yang akan dijalaninya.

Dokter bukan Tuhan, bukan Dewa, bukan orang sakti yang bisa menjanjikan kesembuhan 100% tanpa resiko dan komplikasi satupun. Bahkan kami juga tidak bisa menjanjikan kami tidak akan berbuat kesalahan. Apakah ada dokter “mata duitan” yang tidak peduli dengan pasien hanya mementingkan keuntungan pribadi? NAIF kalau saya bilang tidak ada. Selalu ada oknum di setiap profesi.

Tapi… menggeneralisasi suatu profesi hanya karena tindakan tercela beberapa oknum, adalah tindakan yang kurang bijak.

dr.Rudy Kwang SpOT

Topik Terkait