Dokter, RS, Bidan: “Kita sama-sama Korban” (VAKSIN PALSU)

Anak saya ternyata juga dapat vaksin palsu, karena ternyata rumah sakit saya juga tertipu membeli vaksin palsu..
Harga vaksin yang lumayan mahal untuk saat itu, 1,5 juta namun begitulah demi kebaikan anak…

Dengan mendapat vaksin palsu, kekebalan yang saya harapkan buat anak saya tentunya tidak tercapai..
Alhamdulillah, anak saya sehat sampai saat ini, semoga Allah akan selalu memberinya kesehatan dan umur yang panjang..

Kekebalan memang tidak tercapai, namun anak tetap sehat..artinya kemungkinan isi vaksin palsu itu hanya plasebo atau hanya zat tidak berbahaya, sehingga tidak mengganggu kesehatan si anak

Geram dan kesal tentunya…
Bagaimana tidak, uang sudah keluar banyak namun tujuan tidak tercapai
Entah bisa di vaksin ulang entah tidak, karena vaksin itu hanya diberikan segera saat sibayi lahir

Namun apakah saya akan menyalahkan Rumah sakitnya ?
Saya yakin si empunya Rumah sakit tidak tahu menahu soal pembelian vaksin ini, karena sudah diserahkan pada karyawannya yang menangani pengadaan obat, kebetulan apotekernya langsung
Dan tentunya si empunya inipun tidak akan mau membeli obat palsu..

Namun apakah saya akan menyalahkan si apotekernya ?
Saya yakin si apoteker inipun tidak tahu bahwa obat yang dia beli palsu, memang tugasnyalah sebagai pengadaan obat mencari distributor obat yang mau menjual obat dengan harga paling murah atau diskon paling besar, namun tentunya masih suai harga pasaran. Jadi tentunya dia tidak ada kecurigaan vaksin tersebut telah dipalsukan.
Apalagi vaksin-vaksin yang dipalsu ini memang susah cari di pasaran. Tidak semua distributor bisa menyediakan.
Waktu saya akan membeli vaksin itu, saya terpaksa menunggu beberapa hari, karena vaksin itu susah dicari.

Dan lebih lagi, apakah saya akan menyalahkan si dokter anaknya, karena dia sudah meresepkan dan menyuntikkan vaksin tersebut pada anak saya ?
Saya yakin, seperti halnya juga saya. Sebagai dokter kami tidak bisa mengetahui apakah sebuah obat palsu atau tidak. Apalagi obat kadang dibuat oleh pabrik yang berbeda-beda sehingga beda kemasan.
Jadi kadang kami tidak tahu apa isinya, jika pabriknya tidak mencantumkan nama generik obat tersebut pada kulitnya.
Harus diingat juga, tujuan dokter melakukan vaksin adalah untuk kebaikan bukan untuk mencelakai.
Dan tentunya seorang dokter tidak akan pernah memberikan obat palsu demi keuntungan pribadi.

Jadi siapa yang harus disalahkan ???

Sejak kemarin poli rawat jalan Rumah sakit kami tutup.
Akibat daftar Rumah sakit yang membeli vaksin palsu disiarkan di Televisi, dan Rumah sakit kami termasuk salah satunya. Masyarakat demo sampai hari ini di depan Rumah sakit.
Mereka mengamuk sehingga suasana jadi tidak kondusif dan akibatnya pelayanan jadi ditutup karena takut membahayakan pasien dan karyawan.

Akibat ditutupnya Rumah sakit, banyak pasien yang terpaksa tidak mendapatkan pelayanan, padahal mereka membutuhkannya.
Banyak diantara mereka yang harusnya terus minum obat, tanpa boleh putus namun tidak bisa berobat dan terputus obatnya.
Pasien yang harusnya kontrol ke dokternya juga jadi terhambat. Belum lagi pasien anak yang harus segera mendapat penanganan dokternya.
Akhir semua ini, pasien juga yang menjadi korban

Jadi, adilkah jika kesalahan ini kita bebankan pada mereka ?
Adilkah jika pasien-pasien yang tidak bersalah jadi terlantar ?

Mari kita renungkan….

Rumah sakit, Apoteker, dokter dan juga saya sebagai pasien adalah sama-sama “KORBAN PENIPUAN”..
Jangan tambah korban lagi, dengan membuat pasien-pasien yang akan berobat menjadi terlantar..

Aturan regulasi obat di negeri inilah yang harus diperbaiki, karena saat ini semua berjalan tanpa terkontrol dengan baik, tugas pemerintahlah memperbaikinya
Mohon jangan lagi cari kambing hitam, wahai para pejabat negeriku…
Tunjukkan kerja kalian, jangan suka lempar kesalahan
Negeri ini dititipkan pada kalian untuk menjadi lebih baik.

– dr. Hj. Eva Sridiana, Sp. P
(Presidium DIB)

Topik Terkait