Haji Agus Salim

Beliau adalah orang Indonesia pertama yang menjadi diplomat. Berkat keahlianya berdiplomasi dan penguasaan terhadap banyak bahasa asing (tidak kurang 9 bahasa), kedaulatan Indonesia paska proklamasi berhasil memperoleh banyak dukungan dari dunia Internasional.

Beliau satu di antara Orang Asia Pertama yang memberi kuliah di Cornell University USA. Menjawab salah satu interupsi audiens yang ber-aksen Perancis, dengan Bahasa Perancis yang fasih. Beliau lulusan terbaik dari sekolah milik Belanda di Sumatera (di antara siswa-siswa lainnya yang mayoritas anak-anak Bangsa Belanda). Di masa pendudukan Belanda, beliau menjadi perwakilan Hindia Belanda untuk kantor perwakilannya di Arab Saudi.

Semasa hidup, Haji Agus Salim pernah menjabat sebagai Diplomat dan Menteri Luar Negeri. Namun hingga akhir hayatnya beliau tak pernah punya rumah Pribadi. Hidup nomaden dari kontrakan ke kontrakan. Putrinya adalah gadis yang memainkan Piano mengiringi Biola Wage Rudolf Supratman saat membawakan lagu Indonesia Raya Pertama kali. Puteranya adalah Atase Militer Indonesia pertama untuk RRC (Cina). Keponakanya Prof.Dr. Emil Salim adalah ekonom kenamaan sejak Masa Orde Baru hingga kini. Keluarganya hidup berpindah-pindah selama perjuangan kemerdekaan Indonesia, untuk pendidikan dasar sampai menengah, Agus Salim sendirilah yang mendidik mereka. Begitu sederhananya keluarga ini, sampai kain kafan untuk putera kecilnya yang wafat, beliau ambil dari bekas kelambu rumahnya.

Beliau pula yang menekankan kepada KH. Ahmad Dahlan tentang urgennya pendidikan pada proses pembinaan para santri Muhammadiyah. Beliau pula yang menjadi mentor Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, dan juga Sjafrudin Prawiranegara (Menteri Keuangan Pertama) dalam perjuangan kemerdekaan dan pada awal Republik ini berdiri. Pernah suatu masa Sjafrudin Prawiranegara datang ingin menceritakan tentang kesulitan ekonomi keluarganya. Keluh kesahnya batal beliau ceritakan pada mentornya itu, saat melihat Agus Salim sedang bermain dengan puteranya yang memakai celana kodok berbahan bekas karung.

Semoga terlahir Putera-puteri Indonesia yang meneladani beliau, dalam kesederhanaan, kecerdasan, keberanian, kecerdikan, dan ideologi yang luhur dan bersih dari segala cemaran keduniaan.

Topik Terkait