Jaminan Keamanan Bagi Dokter Di Daerah Terpencil

Dokter dan Tenaga Kesehatan lain di Indonesia statusnya bukanlah Profesi “Khusus”.
Meskipun peran dan tugasnya sangat vital.
Di Cuba, biaya pendidikan kedokteran ditanggung negara.
Dampaknya, semua lulusan dokter di Cuba dipastikan adalah bibit terunggul yang berkeinginan mengabdi sebagai Dokter dan oleh negara difasilitasi. Dokter yang lulus pun otomatis menjadi pegawai negeri (mirip sistem di militer dan kepolisian, serta pendidikan kedinasan lain). Sehingga negara dapat mengatur jumlah dokter, sebarannya, kepangkatanya, kekhususanya, serta pendidikan berkelanjutanya, terakhir tentu kesejahteraannya dan jaminan keamanan saat bertugas di daerah rawan dan terpelosok.

Ini berlaku pula di Jerman serta Negara Skandinavia. Meski pendistribusiannya tidak seketat Cuba, namun bagi dokter yang berkenan bekerja di daerah yang jauh dari perkotaan, negara menjamin insentif yang besar. Dan pertumbuhan karirnya pun terjamin.

Di Amerika, meskipun sekolah kedokteran cukup mahal, namun ada bantuan dari negara, selain beasiswa, yakni; student loan, pinjaman lunak, yang dapat dikembalikan bertahap pasca lulus.
Serta siswa pendidikan dokter pada tahap profesi, mereka mendapat ‘gaji’ yang cukup besar (Berlaku hampir di semua negara maju, bahkan Malaysia, Filipina, dan Singapura pun memberi gaji/imsentif bagi siswa dokter di tahap pendidikan profesinya).

Sedang di Negeri ini?
Pendidikan Kedokteran teramat mahal, kualitas pendidikan kedokteran, berbeda-beda di tiap kampus.
Lulusan Dokter tidak ada kewajiban mengabdi (PTT tidaklah wajib). Harapan untuk melanjutkan pendidikan pun sering terkendala biaya pendidikan spesialis yang tidak kalah besarnya.
Untuk yang Mengabdi di daerah rawan konflik, rawan bencana, terpencil, rawan wabah penyakit (t.u penyakit infeksi), lokasi yang berbahaya, sama sekali tidak ada jaminan dari negara, baik jaminan kesejahteraan, jaminan keberlangsungan pendidikan, jaminan keamanan, sama sekali tidak ada.
Lantas masa depan ‘kesehatan bangsa’ macam apa yang kita harapkan?.

– Radietya Alvarabie

Topik Terkait