Kode E (*disangka BABI) pada Bahan Makanan

Beredar isu (lagi) terkait es krim pakai bahan makanan berkode E. Lalu ramai-ramai dituduh ber- BABI hanya karena berkode E. Padahal sudah jelas ada nomer register dari BPOM dan LPPOM MUI.

Jika sudah punya nomer register dari BPOM itu, pasti sebuah produk akan mencantumkan bahan-bahan yang menjadi perhatian masyarakat pada labelnya di kemasan.

Jadi bahan semisal memakai babi, alkohol, pemanis, pengawet, dll itu wajib ada dalam label dengan memakai nama terstandard yang familiar di masyarakat. Nah, coba dibaca label dibungkusnya, apakah ada keterangan “babi” itu?
Jika tidak ada, maka produk itu yaa memang tidak mengandung bahan2 tersebut.

Jika sebuah produk mencantumkan logo/tulisan halal meski bukan halal MUI pun BPOM sudah meminta sertifikat asal-barang untuk bukti perlengkapan kehalalan masing-masing bahan penyusun produk.

Makanya keberadaan nomer registrasi BPOM menjadi patokan saya untuk pemilihan makanan kemasan.
http://clearinghouse.pom.go.id/content-penerapan-label-pang…

http://jdih.pom.go.id/…/HK.00.05.1.23.3516.pdf&ved=0ahUKEwj…

Jika sudah ada logo halal MUI yaaa pastilah itu sudah jelas kehalalan masing-masing bahan penyusun.
http://www.halalmui.org/…/index.php/main/go_…/39/1328/page/1

Kode E dalam kemasan bahan makanan belum tentu dari babi. Bisa dari hewan lain atau bahkan tumbuhan.

Kode E apakah ini artinya semua kode E itu menunjukkan dari babi?

Kode-E atau E-number menurut UK Food Standard Agency adalah kode untuk bahan tambahan/aditif makanan yang telah dikaji oleh Uni Eropa.

E-numbers adalah kode bahan tambahan pangan, tidak semuanya berasal dari bahan hewani. Memang ada E-numbers yang berasal dari bahan hewani, namun tidak sedikit pula E-numbers yang berasal dari bahan nabati, bahan tambang, bahkan bahan sintetis.

E-numbers yang berasal dari bahan hewani, tidak hanya berasal dari lemak, namun juga berasal dari senyawa lain maupun organ tubuh tertentu, seperti: tulang, kulit, telur, susu, dll. E-numbers tidak semuanya emulsifier/stabilizer, apalagi lemak babi. Ada E-number yang berupa senyawa pewarna, senyawa pengawet, senyawa pengasam, senyawa antioksidan, dll.

Kode E-numbers sama sekali tidak identik dengan status halal atau haram, apalagi identitas sebagai lemak babi.

Contohnya:

E-100 adalah curcumin merupakan ekstrak kunyit yang berfungsi sebagai pewarna (halal)

E 110 adalah sunset yellow yang merupakan pewarna terutama bagi produk-produk fermentasi yang mendapat perlakuan panas (halal)

E 120 adalah cochineal yang juga merupakan pewarna merah alami yang berasal dari sebuah serangga yang dalam keadaan bunting yang sebenarnya adalah carminic acid. Kehalalannya sangat tergantung wujudnya. Jika cair sangat tergantung pelarut yang digunakan.

E 140 adalah chlorophyl adalah pewarna hijau alami yang bisa berasal dari bayam, rumput, dan tanaman lain. Proses ekstraksinya bisa menggunakan pelarut tertentu termasuk etanol. Jika cair, kehalalannya sangat ditentukan sisa pelarut etanol yang terdapat di dalam produk tersebut. Tetapi jika berbentuk bubuk, kehalalannya sangat ditentukan oleh bahan tambahan lain disamping klorofilnya.

E 141 adalah copper complexes of chlorophyl and chlorophyllins halal dengan catatan sama denan E 140.

E 153 adalah carbon black yang bisa berasal tanaman atau tulang hewan (bisa saja dari hewan yang tidak halal seperti babi atau hewan sapi, kerbau, yacht yang tidak disembelih secara Islam)

E 210 adalah calcium sorbat (halal)
E 213 adalah potasium benzoate (halal),
E 214 adalah calcium benzoate (halal),
E 216 adalah ethyl 4-hydroxybenzoate (halal),
E 234 adalah 2- (thyazol-4-yl) benzimidazole (halal),
E 252 adalah sodium nitrate (halal),
E 270 adalah calcium acetate (halal),
E 280 adalah propionic acid (halal),
E 325 adalah sodium lactate (syubhat, tergantung dari media fermentasi asam laktat yang digunakan),
E 326 adalah potasium laktat (sda),
E 327 calcium lactate (sda),
E 337 (potasium sodium L-(+)-tartrate atau sodium potasium tartrate (halal),
E 422 glycerol adalah hasil samping produksi sabun, sehingga harus dipastikan sumber asam lemaknya (bisa saja hewan (mungkin saja babi) atau tanaman, atau dari propilen (halal)
E 430 adalah polioksietilen stearat,
E 431 adalah polyoksietilen (40) stearate harus dipastikan sumber asam stearatnya (hewani atau tanaman)
E 432 adalah polioksietilen (20) sorbitan monolaurate (sumbernya bisa hewan atau tanaman),
E 433 polyoksietilen (20) sorbitan mono oleat,
E 434 adalah polioksietilen (20) sorbitan monopalmitate,
E 435 Polioksietilen (20) sorbitan monostearat,
E 436 polioksietilen (20) sorbitan tristearate.

E 470 sodium, potasium dan calsium of fatty acid , E 471 mono dan digleserida, E 472 acetylated mono dan digleserida, E 473 sucrose esters of fatty acid, E 474 sucroglyceride, E 475 polyglycerol ester of fatty acid, E 476 poliglicerol poliricinoleate, E 477 propilen glikol ester of fatty acid, E 478 lactilated fatty acid esters of glycerol and propane -1,2-diol, E 481 sodium stearoyl-2-lactylate, E 482 calcium stearoyl-2-lactilate, E 483 stearyl tatrate, E 491 sorbitan monostearate, E 492 sorbitan tristearate, E 493 sorbitan monolaurate, E 494 sorbitan mono-oleate, E 495 sorbitan monopalmitae, E 570 stearic acid, E 572 magnesium stearate.

Semua bahan yang ada asam lemak (fatty acid seperti oleat, stearat, palmitat) nya maka statusnya menjadi syubhat karena ada kemungkinan dari bahan yang haram.(E 491 sorbitan monostearate ini sendiri bisa dari tanaman maupun hewan)

E 440 amidated pectin (halal),
E 542 edible bone phosphate (berasal dari tulang hewan sehingga ada kemungkinan dari babi)
E 631 sodium 5-inosinate (syubhat, dapat dihasilkan dari ekstrak daging),
E 635 sodium 5-ribonukleotida (syubhat tergantung dari media fermentasi yang digunakan)
E 904 shellac (halal)

Pada intinya, kode E yang ada kemungkinan bersumber dari tumbuhan maupun hewan, tidak otomatis berasal dari babi. Harus ada sekelompok ahli yang bisa memastikan bahwa bahan-bahan tersebut apakah halal atau haram. Nah, aktivitas ini yang dilakukan oleh Lembaga Pengkajian Pangan, Obat, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI).

Jadi sebaiknya klarifikasi dahulu jika kita merasa resah.

Sumber: Hidayatullah dan MIUMI
http://m.hidayatullah.com/…/…/kode-e-pada-makanan-babi.html…
http://mui.or.id/…/kode-e471-dalam-produk-luwak-white-koffi…

Pesan nomer 8 dalam Pedoman Umum Gizi Seimbang menyarankan kita untuk: Biasakan membaca label pada kemasan makanan.

Cari tahu apa arti label tersebut sebelum membuat isu viral yaa

Salam Dunia Sehat!

– dr. Annisa Siti Rohimah (Annisa Karnadi)

Topik Terkait