Kuliner Indonesia, Race To The Bottom?

Menurut saya makanan jaman sekarang sudah gak memiliki seni nya sama sekali.

Semua makanan sudah terbaca pattern nya.
1. Topping heboh
2. Topping itu2 aja. Keju merk, coklat merk, sereal merk.
3. Gampang ditiru. Karena buat nya gampang dan bahan2nya mudah didapat.
Contoh: indomie pakai keju cheddar. Milo pakai ceres.

Seni nya sudah hilang. Sehingga sebenarnya ini bukan kuliner melainkan hanya mengawinkan makanan instant A dengan instant B.
Kulakan di indomaret juga bisa kok.

Kenapa saya bilang tidak ada seni? Saya sendiri sebenernya juga seorang foodie.

Bakmi favorit saya, hanya berjualan dipagi hari, semua mie nya bikin sendiri, tanpa pengawet, kualitas mie nya juara dan konsisten.

Rujak siantar punya bumbu khas kedaerahan. Tidak mudah ditemukan. Gerobak cici nya selalu sepi karena semua orang hanya doyan makan seblak level seribu. Tapi saya salut dengan konsistensi nya untuk tetap stick to her roots.

Bubur Manado, teksturnya, effort pembuatan nya. Biarpun porsi kecil, tapi hati dan pikiran jadi kenyang.

Rendang, dari gigitan pertama hingga bumbu nya sudah menciptakan sensasi berbeda.

Nasi uduk dengan aroma kelapa yang harum dan menggugah selera. Porsi kecil tapi ingin nambah.

Rawon ces pleng yang membuat gigi hitam.

Konro bakar yang iga nya sliding dari tulang nya?

Sebenernya tidak berbeda dengan pola pikir masyarakat yang ingin segalanya cepat instant dan tidak mau repot.

“Gua laper, gua mau kenyang”

Walhasil dari sisi kuliner hanya menampilkan warna menarik, rasa manis, rasa pedas, rasa gurih, porsi jumbo. Namun secara kualitas menurun.

Dari sisi pengusaha juga sama, yang penting fast and quick profit.

Sebenernya ini sah2 saja. Gak ada yang salah.

Tapi buat saya kuliner memiliki intimasi khusus yang tidak bisa ditemukan.

Dan apa yang terjadi sekarang ini adalah “race to the bottom” semua orang berlomba-lomba ‘to become worse’.

Karena makan bukan hanya urusan perut dan lidah, tapi mind, body and soul.

Credits Bryan Wicaksono

Ilustrasi : yukkepo.com