Kuyup Keringat Buruh Jas Putih

Potongan iklan di Lo.ker (Lowongan Kerja) #Dokter ;
….
Cito !!! (*Darurat/ segera) dibutuhkan #Dokter untuk jaga klinik ‘A’
Jam 8-16, UD (Uang Duduk) Rp.150rb, mulai pasien ke-5 dst per pasien Rp.5000, pasien BPJS Rp. 2000.
….
Saudara, demikian potongan kalimat dalam sebuah Lo.ker #Dokter .Bayangkan kalau pasiennya hanya 3-4. Berapa rupiah yang di dapat hari itu. Seandainya dalam 1 bulan #Dokter tersebut berpraktik di Klinik tadi, cukupkah untuk biaya hidup keluarganya?. Bila menganggap #Dokter bisa praktik di beberapa tempat, berapa jam dalam sehari beliau habiskan untuk bekerja? 16 jam? Lantas kualitas performa #Dokter yang bagaimana yang kita harapkan??!.

Saudara, betapa hari ini #Dokter #Indonesia berada di titik kulminasi kehormatan dan kesejahteraan yang fatal !. Seorang dukun atau ahli pengobatan alternatif yang jelas membahayakan masyarakat, sebebas-bebasnya membuka praktik di tepian jalan dan keramaian. Bahkan siaran di TV Nasional !!!
Sementara seorang #Dokter yang berpraktik resmi dengan ijazah hasil bertahun-tahun sekolah, disidak aparat berwenang. Seorang #Dokter terduga suatu tindak yang dianggap pidana ditangkap- digelandang- dibawah pengawalan ketat polisi bersenjata lengkap. RS dan #Dokter terduga terlibat vaksin palsu diboikot keluarga pasien, dipukuli, dijambak diludahi. Di mana Negara dalam melindungi aset SDM- nya yang di berbagai belahan dunia amat dihormati ??. Di Australia jangankan pukulan, cukup ancaman terhadap Tenaga Medis, pabila terbukti di Pengadilan, maka akan berhadapan dengan hukuman 14 tahun Penjara. Bagaimana dengan negeri kita??

#Dokter #Indonesia telah sejak lama berjuang bagi bangsa ini. Dari mulai dr. Sutomo  bersama dr. Gumbreg mendirikan Boedi Oetomo wadah intelektual pertama. dr. Moewardi pelopor dan Bapak Pramuka Indonesia. dr. Laksamana (Tituler). J.Leimena sebagai Wa.perdam (Wakil Perdana Menteri RI) yang tujuh kali menjabat sebagai Pejabat Presiden, kepercayaan Bung Karno saat Beliau meninggalkan Indonesia. dr. Lumbantobing Gubernur Militer di Sumatera. dr. Tjipto Mangunkusumo dengan Indische Partij- nya, pergerakan nasional pertama. Begitu dihormati #Dokter #Indonesia saat itu.
Hari ini??

Di berbagai belahan dunia profesi #Dokter mendapatkan tempat tersendiri di Masyarakat. Di Jepang seorang #Dokter di panggil dengan sebutan “Sensei”, di Jerman mereka memanggilnya dengan Herr (Tuan) Doktor. Pernah saya berbincang dengan ‘Hibakusha’ (korban Bom Atom Hiroshima- Nagasaki) yang masih hidup, beliau ceriterakan, pasca Bom Atom menghancurkan Jepang, Kaisar menanyakan; berapa orang #Dokter yang masih kita punya? Berapa orang guru yang masih tersisa?.

Indonesia dengan kompleksitas masalah sosialnya, berupaya menjamin hajat utama rakyatnya yakni pendidikan, pangan dan kesehatan, tetap berlangsung semiskin apapun kondisinya. Pemerintah menggratiskan pendidikan, namun membuat sertifikasi guru yang cukup jelas, terkait tunjangan guru serta pengangkatan PNS bagi guru. Meski nasib guru honorer masih terhitung miris. Namun bagaimana dengan sistem penjaminan kesehatan kita? Hari ini rakyat di-angin-segarkan dengan BPJS. Semua ‘gratis’. Itu tagline-nya. Tidak boleh ada rakyat yang ditolak saat berobat. Itu ‘ancaman’-nya.
Saudara, pahamilah bahwa faktanya, dana yang digelontorkan pemerintah bagi pelaksanaan BPJS ini teramat minim. Dan BPJS ini selama perjalanannya belum pernah tidak ‘defisit’. Cost yang dibutuhkan dalam pembiayaan suatu terapi seringkali jauh lebih besar dari yang ditanggung BPJS, akibatnya RS rugi, wal hasil Jasa Medis #Dokter dan tenaga medis lainnya yang dipotong. Jadi out of context atau sangat salah alamat bila memuntahkan permasalahan BPJS ini kepada #Dokter . Kuota tempat tidur untuk pasien BPJS ada jatahnya. Bila semua jatah dipakai BPJS, RS rugi. Selama ini defisit anggaran yang diterima RS akibat menanggung pasien BPJS di subsidi oleh pasien umum/ asuransi. Bila tidak begini operasional RS tidak akan berjalan, dan bangkrut !!.
Sudah banyak RS yang bernasib begini, hingga akhirnya dibeli/diambil alih oleh perusahaan kesehatan dari negeri lain (atau mayoritas sahamnya dimiliki negeri lain).

Ketakutan masyarakat, utamanya kelas menengah, terkait ketidakjelasan BPJS menjadikan mereka membeli asuransi kesehatan swasta, yang 90% nya providers asing. Di tahun 2014 saja tidak kurang 25 T dana premi asuransi kesehatan swasta milik rakyat Indonesia mengalir ke provider asuransi asing. Kondisi ini menjadikan kita tidak berdaya baik dalam hal ekonomi, kesehatan, sampai kepada pengelolaan sistem kesehatan kita. Kita tidak saling menolong dalam rumah Indonesia kita, tapi justru mendatangkan “tamu” untuk menyembuhkannya, setelah putus asa oleh ‘keruwetan’ yang kita ciptakan sendiri.

Saudara, apa anggapan masyarakat saat berjumpa dengan #Dokter ? Hormat? Salut? Atau mencibir : “..ini orang bisa jadi #Dokter pasti anak orang kaya”.

Betapa mahalnya #PendidikanKedokteran di Indonesia telah melunturkan asas keadilan sosial yang jadi dasar Negara kita. Semestinya semua anak bangsa punya Haq yang sama untuk meraih segala macam cita-citanya. Gratisnya sistem pendidikan dasar-menengah di Indonesia, kontradiktif dengan Pendidikan Tingginya. Setelah sistem BHMN pada perguruan tinggi di Indonesia (termasuk PTN) diterapkan, subsidi pemerintah untuk PTN dan PTS menjadi sangat terbatas. Sebab anggapannya dengan sistem BHMN, perguruan tinggi mestinya mampu membiayai dirinya sendiri, sebab UU membolehkan BHMN meraih dana sendiri melalui jalur apapun itu. Sayangnya ini justru menjadikan PTN/PTS mencari dana dari Mahasiswanya. Mahalnya operasional Fakultas Kedokteran menjadikan alasan bagi PTN/PTS menarik dana dari Mahasiswanya dalam jumlah yang ‘fantastis’ .

“Prestise” menjadi #Dokter serta harapan kesejahteraan di masa depan, menjadi magnet kuat seseorang memilih FK. Fenomena ini lahir akibat ‘keterpaksaan’ dari sistem yang dibuat pemangku kebijakan. Maka, mari sebagai satu bangsa kita berhenti untuk apatis dengan mengatakan: “Pantas biaya berobat mahal, #Dokter nya mau balik modal !!”
Atau kalimat yang seolah bijaksana dengan mengatakan: “udahlah jadi #Dokter yang IKHLAS !! Rezeki udah ada yang ngatur” . Saudara, mari kita merenung, sistem pendidikan dan sistem kesehatan kita yang carut- marut begini telah mendzalimi rakyat. Menelantarkan puluhan-juta orang sakit. Membuat kita ter-adu-domba tanpa sadar dan paham masalah yang esensi.
Akhirnya rakyat antar profesi saling menyerang. Kasus ‘vaksin palsu’ adalah contoh betapa kita tidak paham mengalamatkan sakit hati kita sebagai rakyat yang didzalimi hajat hidupnya yang paling esensi sebagai manusia: Pelayanan Kesehatan. Buruknya sistem pelayanan kesehatan yang diterima rakyat kecil membuat mereka merasa tidak “dimanusiakan” .

Maka, saudara, #Dokter , Guru, Sarjana Hukum, kita semua adalah rakyat Indonesia. Putera-puteri Bangsa. Berhenti sejenak saling menyalahkan antara kita. Pahamilah sungguh-sungguh akar masalah chaos-nya sistem kesehatan di Negeri kita. Tidak ada #Dokter tanpa pasien, dan mustahil manusia hidup tanpa #Dokter. Percayalah saat seseorang berhasrat menjadi #Dokter di nuraninya terdalam tersimpan hasrat tulus untuk menolong sesama. Kita harus bangkit bersama-sama me-reformasi sistem kesehatan yang kacau ini. Agar sistem kesehatan kita berkeadilan sesuai dasar negara dan cita-cita negeri ini. Itu semua mesti kita bangun dari bibit seorang #Dokter yakni dengan menciptakan sistem #PendidikanKedokteran yang Pro Rakyat. Mengesampingkan segala variabel yang menghambat dan menawan niat seseorang menjadi #Dokter. Serta membuka seluas-luasnya gerbang bagi sesiapapun yang mampu dan berkeinginan tulus mengabdi sebagai #Dokter #Indonesia .

Selamat Hari #Dokter Nasional

Topik Terkait