(LAGI) Pemukulan Dokter Yang Sedang Bertugas di Bali

#SaveTenagaKesehatanIndonesia

Apa yang menimpa saudara sejawat kami #Dokter di Bali telah membuat kami sangat bersedih, kecewa, sekaligus jengah dengan penegakkan hukum di negeri ini. Dokter tersebut sedang menjalankan tugasnya, dipukul dan di maki-maki dihadapan banyak orang. Hancur sudah marwah Dokter dan tenaga kesehatan   Indonesia. Di negeri lain, pelakunya sudah langsung dijebloskan ke penjara atas pelanggaran berat. No exeption.

Sesiapapun kita, seberkuasa apapun, suatu masa, tidak bisa tidak, akan sangat memerlukan pertolongan tenaga kesehatan.
Jumlah Dokter dan tenaga kesehatan di Indonesia masih kurang. Distribusinya pun sangat timpang jauh. Jaminan pelayanan kesehatan mendapat anggaran minim dari Negara, selain itu dananya telah beberapa kali terbukti diselewengkan oleh pejabat daerah. Fasilitas kesehatan dan kebijakan pelayanan kesehatan, sesuka hati di obrak- abrik kebijakanya oleh para Raja-raja kecil penguasa daerah (Pemda). Dokter ahli di mutasi ke Puskesmas hanya karena kritis atas pendanaan kesehatan di Rumah Sakit yang anomali. Inilah SUMBER dari segala kebobrokan pelayanan kesehatan di Indonesia
Bukan dari Dokter, Perawat, Dokter Gigi, Ahli Gizi, Apoteker yang jadi muara kambing hitamnya.

Tenaga Kesehatan adalah operator sekaligus pejuang utama lini terdepan dalam pelayanan kesehatan. Menjaga kesehatan dan kesejahteraan jasmani masyarakat. Mereka belajar sepanjang hayat, dengan biaya yang tidak sedikit, dengan perjuangan yang tidak mudah. Pasca selesai pendidikan, tenaga kesehatan mesti melalui uji kompetensi untuk bisa berpraktik dan terdaftar resmi izin praktiknya. Kesemuanya ini diurus mandiri dengan biaya yang juga mandiri. Demi bisa mengabdi bagi masyarakat dan bekerja dengan nafkah yang layak serta profesional, menjunjung tinggi ilmu manusia dan kemanusiaan.

Pemerintah mesti jujur. Apabila kesehatan belum mendapat prioritas dalam aspek pendanaan, pendidikan, jaminan perlindungan hukum dan keamanan, selamanya kebusukkan ini terus berlanjut.
Sekarang bisa saja nama baik Negara bersih, musabab terlindung di jas-jas putih Dokter dan tenaga kesehatan yang siang malam berlumur darah dan kotoran manusia. Namun suatu masa kami berharap semoga masyarakat tersadar, betapa parahnya sistem pembiayaan dan manajemen kesehatan negeri ini.

Angka Diphteri di Indonesia adalah yang tertinggi di Dunia.
Angka keparahan kematian akibat gizi buruk di asmat pun adalah yang terparah.
Penyakit-penyakit yang berhasil di eradikasi (diberantas) di masa lalu (Polio, Diphteri, dll), saat ini muncul kembali.
Vaksin palsu pun beredar dengan bebas.
Begitu hebatnya prestasi kita di bidang kesehatan. Dipundak siapa mesti kita alamatkan raport merah ini??!!!

Belum lagi aspek pendidikan kesehatan yang sangat mahal. Ditambah lagi ‘underpaid’ dan ‘overwork’ Tenaga Kesehatan yang sangat dihindari negara-negara lain, justru terjadi di Indonesia. Dan bila Tenaga Kesehatan melancarkan protes dan kritik, jawabanya sungguh mulia: ‘Dokter harus Ikhlas’, lantas KEADILAN SOSIAL itu milik siapa??.

Padahal sebagai yang berjuang melayani kesehatan rakyat di lini terdepan, kami berhadapan langsung dengan sistem yang bobrok yang teramat merugikan rakyat. Jika suara kami tidak lagi didengar, atau dikaburkan oleh media masa, lantas siapa lagi yang lebih mumpuni memberi masukan ???

#BERSATULAHTENAGAKESEHATANINDONESIA

– Radietya Alvarabie

Topik Terkait