Mungkinkah Dokter Menolong Pasien?

Seperti biasa dini hari adalah jam rawan bagi UGD dan dokter emergency, seringkali pasien datang dengan kondisi kritis mengancam nyawa. Kali ini seorang pria 48 tahun, penderita gagal ginjal yang rutin hemodialisis (cuci darah) datang dengan kesadaran menurun dan gagal napas. Pasien rujukan dari RS yang tidak memiliki fasilitas memadai. Bantuan pernapasan diberikan sejak awal di UGD (intubasi/ selang pernapasan dan ventilator). Tekanan darah di UGD tidak terukur, nadi 160x/mnt. Perbaikan cairan dan pemberian obat jantung tidak banyak memperbaiki hemodinamik (tekanan darah dan nadi yang tidak stabil), giliran tugas saya datang segera memberikan perawatan intensif di ICU. Setelah terpasang kateter vena sentral, dapat diketahui CVP (tekanan vena sentral) pasien 30 cm H2O jauh diatas normal rata2 8 – 12 cmH20, pasien dalam kondisi overload cairan tapi dengan hemodinamik yang buruk sehingga beresiko tinggi jika dilakukan hemodialisis.
Apapun sebabnya kondisi ini pasti akan berpengaruh pada oksigenasi seluruh sel tubuh sehingga kerusakan sel tubuh pasti akan terjadi bila tidak segera dilakukan koreksi. Mau tidak mau harus dilakukan hemodialisis dengan teknik SLED (Sustained Low Efficiency Dialysis), yaitu memperlambat proses dialisis sehingga hemodinamik pasien tetap stabil. Dugaan Sepsis (infeksi yang berlanjut hingga merusak seluruh sistem tubuh) terbukti dengan hasil laboratorium Procalcitonin 40,7 ng/mL jauh diatas diatas normal (<0,05 ng/mL), suatu penanda sensitif dan spesifik yang dapat mendiagnosis sepsis lebih dini, mengetahui beratnya infeksi dan nantinya dapat mengevaluasi hasil pengobatan. Penanganan sepsis yang terlambat berakibat fatal, menyebabkan gangguan multiorgan hingga angka kematian yang tinggi.
Monitoring hemodinamik dilakukan dengan IBP (Invasive/ intra-arterial Blood Pressure) sehingga pemberian cairan, obat penguat jantung (vasopresor dan inotropik) bahkan hemodialisis dapat dilakukan lebih presisi. Pasien juga dipantau dengan ICON sebuah alat monitoring hemodinamik non invasif yang dapat mengukur berbagai parameter hemodinamik dengan cepat & cukup akurat. Dengan pemantauan yang ketat tentunya diharapkan akan memberikan hasil yang lebih baik. Dalam 6 jam pertama pasien mendapatkan penatalaksanaan yang optimal hingga respon terlihat secara klinis, kesadaran membaik dan hemodinamik mulai stabil. Walaupun penyakitnya yang sangat berat dan peluang kehidupan yang kecil tidak ada hak seorang dokter membatasi pelayanan medis terbaik yang dia mampu kepada pasiennya sesuai sumpah hipokrates :

“I will use treatment to help the sick according to my ability and judgment, but never with a view to injury and wrongdoing. neither will I administer a poison to anybody when asked to do so, not will I suggest such a course.”

“Saya akan menggunakan pengobatan untuk menolong orang sakit sesuai kemampuan dan penilaian saya, tetapi tidak akan pernah untuk mencelakai atau berbuat salah dengan sengaja. Tidak akan saya memberikan racun kepada siapa pun bila diminta dan juga tak akan saya sarankan hal seperti itu.”
Saya tidak melanjutkan cerita bagaimana kondisi pasien selanjutnya karena akan banyak faktor yang berpengaruh pada tahap berikutnya, tidak hanya sikap/ keputusan keluarga yang menyerah karena faktor sosial ataupun biaya sehingga perawatan ICU tidak berlanjut. Sangat sering keluarga berupaya maksimal dalam pengobatan hingga pasien melewati kondisi kritis di ICU bahkan hingga sembuh. Mungkin juga pasien akhirnya jatuh dalam kondisi perburukan atau komplikasi tapi setidaknya memberi kesempatan pasien dan keluarganya mendapatkan pelayanan medis yang terbaik.
Bukan pula untuk menceritakan kehebatan upaya medis dan canggihnya peralatan medis karena toh saya hanya berupaya memberikan pelayanan terbaik berdasarkan pengetahuan, kompetensi dan evidence base yang ada dalam dunia kedokteran. Saya hanya seorang dokter yang bekerja purna waktu di sebuah RS swasta yang hanya dapat membantu pasien-pasien yang keluarganya setuju dirawat di ICU dan memiliki kemampuan finansial membayar segala pelayanan yang serba mahal. Saya tidak mungkin menolong pasien-pasien kritis hanya berbekal pemeriksaan fisik sederhana dengan stetoskop tanpa bantuan alat medis dan pemeriksaan penunjang.

Kalau ada yang berpikiran perawatan ICU adalah bisnis semata mungkin harus berani berhitung bagaimana pihak RS berinvestasi membeli segala peralatan ICU yang serba mahal, sebagian besar impor dan negara mengenakan pajak barang mewah hingga akhirnya hanya dapat dibeli dengan biaya super mahal. Itu sebabnya tidak semua RS mampu menyediakan fasilitas ICU yang komplit karena tidak menguntungkan dibandingkan menyediakan kamar-kamar perawatan yang eksklusif laksana hotel berbintang. Kalaupun ICU terlihat bersih dan mewah karena memang pasien-pasien kritis membutuhkan perawatan yang berbeda dengan pasien pada umumnya, pasien terisolasi dari pasien lain bahkan keluarga tidak bisa bebas ikut merawat, tempat tidur yang comfortable sehingga bisa mengurangi resiko komplikasi perawatan lama. AC yang dingin dan sirkulasi udara dengan tekanan negatif hingga peralatan steril yang sekali pakai membuat perawatan jadi mahal.

Tidak mungkin perawatan ICU hanya seadanya menyesuaikan daya beli pasar sekitar RS. Kalau dibilang perawatan mahal karena biaya dokter sesungguhnya komponen jasa medis hanya bagian kecil dibandingkan biaya pemakaian alat-alat medis ICU seperti ventilator (mesin pernapasan), monitoring invasif/ non invasif, hemodialisis, Syringe pump (alat yang dapat memberikan kepastian pemberian obat dan cairan secara terukur) atau biaya bahan habis pakai seperti handrub yang wajib dipakai setiap kali petugas/ keluarga berinteraksi dengan pasien (sebelum dan sesudahnya) untuk mencegah penularan infeksi. Pemeriksaan penunjangpun dilakukan berulang mengikuti kondisi pasien yang berubah setiap saat. Biaya perawatan juga mahal karena membutuhkan obat-obat khususnya untuk menunjang kehidupan yang bahan-bahannya masih kita impor.

Kalau kemudian ada yang mempertanyakan mengapa sulit mendapatkan pelayanan ICU menggunakan fasilitas BPJS tentunya harus balik bertanya kepada BPJS seberapa besar mereka menanggung perawatan di ICU. Nominal klaim yang tidak rasional menyebabkan RS swasta bahkan RS pemerintah (yang notabene investasi negara dan mendapatkan subsidi pemerintah) tidak mungkin bisa memberikan upaya perawatan maksimal di ICU. Kalaupun diakali misalnya meminimalisir penggunaan alat medis, obat dan pemeriksaan penunjang ataupun menggunakan berulangkali alat yang semestinya sekali pakai tentu pada akhirnya menimbulkan pelayanan medis yang substandar. Itulah yang sebenarnya sekarang terjadi dalam pelayanan medis di era BPJS, akal-akalan berupa pembohongan publik dengan tema pengobatan murah bahkan gratis yang berpotensi merugikan penyedia pelayanan medis maupun masyarakat secara umum.

Angka kejadian penyakit dan kematian yang masih tinggi serta capaian target-target kesehatan yang tidak pernah tercapai menjadi bukti bahwa tidak mungkin menggantungkan kualitas pelayanan kesehatan dengan biaya murah. Pemerintah dan BPJS hanya menonjolkan capaian kepesertaan BPJS yang melampaui target seakan BPJS hanya cari untung lewat monopoli asuransi kesehatan dengan cara “memaksa” masyarakat jadi peserta dan membeli pelayanan kesehatan dengan biaya murah. Kalau kenyataan BPJS nombok hingga 5,85 triliun selama 2015 tentu bukan hanya karena akal-akalan dokter atau penyedia layanan kesehatan.

Sekarang saya tidak hanya memikirkan pasien-pasien ICU yang sedang saya rawat walaupun kondisinya berat dan kritis setidaknya mereka “masih beruntung” bisa mendapatkan pelayanan yang layak. Terbayang pasien-pasien yang akhirnya meninggal tanpa mendapatkan pelayanan ICU atau bahkan tidak sempat mendapatkan pelayanan medis sama sekali karena alasan fasilitas kesehatan yang jauh, kurangnya pengetahuan dan deteksi dini penyakit atau tidak memiliki biaya pengobatan. Apapun alasannya rakyat harus memiliki akses yang sama dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak namun tentunya bukan dengan cara menimbulkan kezaliman pada pihak-pihak tertentu. Negara wajib hadir lewat kebijakan pemerintah di berbagai bidang termasuk komitmen politik dan ekonomi untuk mendukung sektor kesehatan karena hal ini merupakan amanah UUD. Jangan salahkan penyedia layanan kesehatan (klinik, RS) apalagi dokter dan tenaga kesehatan lainnya atas ketidakmampuan dan keterbatasan pelayanan yang diberikan karena memang kami tidak mungkin bekerja sendiri tanpa berbagai dukungan.

Kejadian meninggalnya beberapa dokter dan tenaga kesehatan lain yang berada di pelosok daerah membuktikan buruknya sektor pelayanan kesehatan dan hal ini merupakan cerminan kurang pedulinya pemerintah di bidang kesehatan. Andaikan mereka terdeteksi secara dini menderita penyakit dan selanjutnya mendapatkan pelayanan yang sesuai termasuk perawatan intensif (ICU) yang cepat dan tepat mungkin kondisinya akan lain. Berapa banyak masyarakat menjadi korban buruknya pelayanan kesehatan mungkin tidak pernah terhitung atau mungkin sikap pasrah yang bisa kita sampaikan pada keluarga. Padahal diantara mereka yang sakit kritis adalah anak bangsa yang memiliki potensi besar membangun negeri ini tapi peluang kehidupan mereka sepertinya tidak pernah diupayakan dengan maksimal. Sudah cukup kenyang masyarakat diadu domba dengan dokter, tenaga kesehatan dan RS karena hal ini tidak akan memperbaiki keadaan. Pandangan harus kita arahkan pada pengelola negara ini, sudahkah BENAR-BENAR HADIR melindungi masyarakat ? Tetap berpikiran positif akan terjadi perubahan yang lebih baik di bidang kesehatan di tahun 2016
– dr. Agung Sapta Adi, Sp.An
Dokter Indonesia Bersatu

Topik Terkait