Otak, Perut, dan Puasa

Pada orang yang berpuasa;
Otak dan perut memiliki hubungan dekat (Gut-Brain connection). Apa yang kita makan berpengaruh pada apa yang kita pikirkan. Perhatikan bagaimana alkohol atau makanan berkadar gula tinggi memengaruhi pikiran Anda. Alkohol masuk melalui usus Anda, diproses sedemikian rupa dengan melibatkan flora dalam usus  lalu hasil-hasil prosesnya masuk ke otak. Orang mabuk biasanya tidak bisa berpikir bagus, termasuk mabuk lain seperti mabuk perjalanan atau mabuk cinta. Makanan bergula darah tinggi cenderung membuat Anda jadi malas. Gula yang diproses di usus Anda kemudian memengaruhi otak Anda.

Seperti kata pepatah: Anda adalah apa yang Anda makan (You are what you eat). Pepatah ini menjadi benar setidaknya menurut riset kedokteran 10 tahun terakhir. Natasha Campbell, seorang dokter saraf dan ahli nutrisi, mengenalkan istilah GAPS (Gut and Psychology Syndrome). Menurutnya, semua penyakit jiwa dan otak memiliki kaitan dengan usus dan apa yang kita makan.

Al-Qur’an memiliki satu surat yang khusus membahas soal hidangan dan makanan (QS.Al-Maidah). Rasulullah bersabda: makanlah di saat lapar dan berhentilah sebelum kenyang. Bahkan, dalam satu pernyataannya dikatakan bahwa ‘perut adalah gudang penyakit. Mengendalikan perut adalah puncak segala obat/ ra’sud dhawa’. Beberapa ahli obat (farmakolog) sudah mendengungkan pendapat bahwa ‘obat di masa depan adalah makanan’ (the future of drugs are nutrition).

Seorang pemikir Islam Musa bin Jabar, yang pendapatnya dikutip oleh Ulama Imam Ghazali, berpendapat bahwa; ‘makan seperlunya’ adalah 1 dari 4 cara untuk mengelola perilaku (hawa nafsu). Lebih keren lagi ketika Al-Qur’an menyatakan bahwa ‘makanlah makanan yang baik dan halal’. Halal memiliki pengaruh luar biasa bagi tubuh.

Semoga manfaat.

(Taufiq Pasiak. Pusat Studi Otak dan Perilaku Sosial LPPM UNSRAT Manado).

Topik Terkait