Residen (Siswa Pendidikan Dokter Spesialis) dan Tumpukan Hutang

Saya dengar ada residen, sudah ditahun terakhir pendidikanya. Tabungannya sudah habis, hutangnya menumpuk ditagih kreditor. Akhirnya dia nyambi, mengaku sudah spesialis dan kerja malam di sebuah RS. Sayangnya ketahuan konsulen (Dokter Spesialis), setelah dirapatkan akhirnya orangnya dikeluarkan. Dari cerita itu bisa disimpulkan:

1. Biaya pendidikan dokter spesialis super mahal, hanya dokter yang KAYA atau punya sponsor yang bisa sekolah spesialis. Ini memprihatinkan, karena artinya sistem sekarang menutup kemungkinan dokter yang pintar, tapi keuangan terbatas untuk bisa sekolah lagi.

2. Jangan macam-macam selama pendidikan spesialis. Konsentrasi sekolah saja, jangan nyambi cari uang sendiri atau menipu, dikeluarkan anda tidak bisa ngapa-ngapain, hanya bisa nangis darah, habis uang, habis waktu.

3. Saat lulus pendidikan tabungan habis, hutang banyak, jadi wajar kalau prioritas spesialis baru lulus cari uang sebanyak-banyaknya. Jadi jangan salahkan kalau kebanyakan spesialis enggan dibayar murah dan mau ditugaskan di daerah. Ini memprihatikan, karena negara ini membutuhkan banyak dokter spesialis untuk mau tugas di daerah.

Mendengar berita diatas, kasihan juga saya. Menempuh pendidikan spesialis tidak gampang, biayanya besar dan sangat menyita waktu. Di Indonesia menjadi spesialis butuh waktu 4 sampai 6 tahun. Sudah mau lulus ternyata dikeluarkan menurut saya itu mimpi buruk yang terbesar. Menipu itu memang salah besar. Tapi alasan yang mendorong hal tersebut sampai terjadi menurut saya sangat memprihatinkan dan memang sangat mungkin terjadi dengan SISTEM pendidikan dokter spesialis seperti sekarang ini.

Saran saja untuk pemerintah yang hingga saat ini masih membutuhkan dokter spesialis:

1. Center pendidikan spesialis harus diperbanyak, jangan diselenggarakan Fakultas Kedokteran (University Based), tapi diselenggarakan RS Pendidikan (Hospital Based) yang jumlah dokter pembimbing dan jumlah kasusnya cukup. Sistem seperti itulah yang jadi kewajaran negara lainnya di Dunia. Kalau sudah seperti ini, dokter spesialis bisa diproduksi lebih banyak.

2. Orang negara maju berpikiran maju, haram hukumnya kerja tidak dibayar. Dokter residen lebih banyak menghabiskan waktunya bekerja di RS, jadi bayarlah yang sesuai. Jangan malah diminta NYUMBANG besar untuk fakultas kedokteran atau bayar SPP. Seharusnya pendidikannya free dan dokternya dibayar. Itulah kewajaran negara lainnya di Dunia. Kalau sudah seperti ini semua dokter, bahkan yang kurang mampu punya kesempatan lebih banyak untuk jadi dokter spesialis.

3. Buka akses sebesar-besarnya untuk masyarakat untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Untuk bidang ilmu/ keahlian yang masih dibutuhkan, pemerintah harus sediakan beasiswa sebanyak-banyaknya. Tapi kalau itu tidak mampu, sediakan pinjaman pendidikan bersubsidi dengan bunga yang sangat rendah (terjadi di Amerika). Jangan sampai warga negara terpaksa NGUTANG kesana kesini untuk bisa sekolah. Kalau sudah seperti ini, saya yakin Indonesia akan memiliki cukup tenaga ahli di bidangnya masing-masing.

Oya maaf untuk yang merasa diomongin di paragraf pertama. Semoga anda dikasih jalan yang lebih baik.

– dr. Erta Priadi, Sp.JP

Topik Terkait